Terorisme Surabaya dan Bekal Menuju Akhirat

Baca Juga

Terorisme
Akhir-akhir ini sedang banyak beredar berita mengenai teroris. Karena, komplotan mereka tak henti-hentinya membuat kerusuhan di negeri kita ini.

Kerusuhan yang belum lama terjadi adalah di Mako Brimob. Tak tanggung-tanggung 5 polisi tewas, dan bahkan ada yang meninggal dengan cara digorok. 

Dan yang terbaru, dilansir dari Detik.com pada hari minggu tggl 13 Mei 2018, para teroris kembali berulah. Mereka melakukan bom bunuh diri di tiga gereja.

Lalu, apa sebenarnya yang dicari oleh mereka ? 

Mengapa mereka begitu senang melakukan hal-hal kejam dan bahkan sambil menyuarakan kalimat Allah. 

Seringkali para teroris ini melakukan hal-hal keji atau kekejaman karena itu merupakan suatu bentuk penyampaian mereka. Karena, jika menggunakan cara-cara yang orang lazim lakukan mereka menganggap hal itu tidak akan mempan.

Lalu , mengapa mereka seringkali mengucap lafadz Allah ketika melakukan hal tersebut ? Apakah itu dibenarkan dalam islam? Apakah itu merupakan bentuk kemakrifatan mereka kepada Allah? Sudah tentu jawabanya tidak.

Entah kepercayaan apa yang mereka anut, akan tetapi menurut ajaran islam, orang yang mencari kemakrifatan Allah swt ia akan mempunyai ciri berikut :

اَلْمَحَبَّةُ أَسَاسُ الْمَعْرِفَةِ وَالْعِفَّةُ عَلَمَةُ الْيَقِيْنِ التّقْوَى وَالرِّضَا بِتَقدِيْرِ اللَّهِ
Artinya : "Rasulullah bersabda : ' (1)Cinta kepada Allah adalah landasan ma'rifat. (2) Iffah (memelihara diri dari meminta-minta) adalah tanda yakin kepada Allah (3) Adapun pokok keyakinan adalah taqwa dan ridlo kepada taqdir Allah. "

Apa itu taqwa ? baca di sini

Ma'rifat adalah mengenal betul siapa Allah. Maka yang bersangkutan bila mengaku ia berma'rifat kepada Allah tentunya ia akan rajin bersembahyang.

Tak hanya itu, ia juga akan menjaga kehormatanya dengan tidak meminta-minta kepada orang lain. Karena ia hanya akan meminta kepada Allah.

Dan pokok suatu keyakinan ma'rifat kepada Allah ialah dengan percaya akan taqdir Allah swt.

Lalu, apakah orang yang melakukan bunuh diri itu percaya akan taqdir Allah ?

Mengapa ia sering menyuarakan nama Allah ? Apakah itu bentuk cintanya kepada Allah ?

Sufyan bin Uyainah berkata :

مَنْ اَحَبَّ اللّهَ أَحَبَّ مَنْ أَحَبَّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَمَنْ أَحَبَّ مَنْ أَحَبَّهُ اللَّهُ تَعَالَى اَحَبَّ مَا اَحَبَّ فِى اللَّهِ تَعَالَى ٠ وَمَنْ أَحَبَّ مَا أَحَبَّ فِى اللَّهِ تَعَالَى أَحَبَّ اَنْ لَا يَعْرِفُهُ النَّاسُ
Artinya :

  • Barang siapa mencintai Allah, maka ia pasti mencintai orang yang dicintai Allah.
  • Barang siapa mencintai orang yang dicintai Allah, maka ia akan mencintai sesuatu karena Allah semata.
  • Barang siapa mencintai sesuatu karena Allah, maka ia akan senang menjaga amalnya tidak diketahui oleh orang lain.
Itulah ciri orang yang cinta kepada Allah. Lalu bagaimana dengan mereka yang rela melakukan bunuh diri sambil mengucap nama Allah? Apakah mereka bisa disebut orang yang cinta kepada Allah? Padahal dampaknya banyak orang yang terluka.

Orang seperti itu bisa disebut orang yang mempunyai kepecayaan atau sandaran rapuh. Seirang ulama bijak mengatakan :
  • Barangsiapa hanya berpegang teguh pada akalnya, niscaya ia akan sesat jalan hidupnya.
  • Barangsiapa mengandalkan hartanya, berarti ia orang yang miskin. Karena berapapun banyak harta yang dimilikinya, ia tidak akan merasa puas denganya.
  • Barangsiapa menggantungkan kemuliannya kepada makhluk, dia adalah orang yang terhina.
Maka dari itu, jangan sampai kita tersesat atau mengikuti ajaran sesat. Untuk menanggulangi itu kita harus mempunyai benteng yang kuat, atau akidah kuat.

Ka'ab Al Akhbar seorang pendeta Yahudi yang masuk islam pada masa Umar bin Khattab mengatakan, "Benteng orang mukmin itu ada tiga" , yaitu :
  1. Masjid
  2. Berdzikir kepada Allah, dan 
  3. Membaca Alqur'an

Jadi, sebelum melakukan hal yang gila atau bahkan kejam hendaknya dipikirkan matang-matang. Atau bahkan hingga melakukan bunuh diri. Karena kita harus memikirkan dampak atau efek bagi kita atau bahkan orang lain.

Alangkah baiknya, daripada kita melakukan hal-hal konyol tersebut lebih baik kita menyiapkan bekal menuju akhirat.

Rasulullah saw pernah bersabda kepada Abu Dzar al Ghiffari

يَا اَباَ ذَرٌ جَدِّدْ السَّفِيْنَةَ فَإِنَّ الْبَحْرَ عَمِيْقٌ ٠ وَخُذْ الزَّادَ كَامِلًا فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيْدٌ ٠ وَخَفِّفْ الحِمْلَ فَإنَّ الْعَقَبَةَ كَثُوْدٌ ٠ وَأَخْلِصْ الْعَمَلَ فَإِنَّ النَّاقِدَ بَصِيْرٌ

Artinya : " Wahai Abu Dzar, :

  1. Perbaruilah perahumu , karena lautan itu sangat dalam
  2. Carilah bekal yang lengkap, karena perjalanan itu sangat jauh
  3. Kurangilah beban, karena rintangan itu amatlah sulit untuk diatasi
  4. Ikhlaslah dalam beramal , yang menilai baik dan buruk itu Dzat yang Maha Melihat.
Perbaruilah perahumu, maksudnya perbaikilah niatmu dalam setiap beramal, agar engkau dapat pahala.

Kurangilah beban, maksudnya janganlah banyak-banyak engkau mengambil keduniaan.

Akhirat adalah lautan yang dalam , perjalanannya amat sangat jauh dan lama. Kita harus melewati alam qubur terlebih dahulu. Dan jika bekal kita sedikit, kita akan sangat menderita di alam qubur dan juga di akhirat kelak.

Perbaiki niat, dan berfikirlah sebelum bertindak.

Sumber hadits : kitab Nashaihul 'Ibad

Related Posts:

2 Responses to "Terorisme Surabaya dan Bekal Menuju Akhirat"

  1. MasyaAllah .. Saya suka artikel ini .. Sangat bermanfaat .. Emang betul islam sejati tidak pernah mengajarkan untuk jadi teroris

    ReplyDelete
  2. Semoga para korban di beri ketabahan :(

    ReplyDelete