Pasca Perang Uhud | Kisah Shalat dan Syahidnya Tiga Sahabat

Baca Juga

Perang Uhud

Pasca perang Uhud, orang-orang kafir yang keluarganya terbunuh dalam perang tersebut, kini dendam mereka mulai menyala. Sulafah, yang kedua anaknya telah terbunuh dalam perang tersebut bersumpah jika ia menjumpai 'Ashim r.a. (sahabat yang telah membunuh kedua anaknya), ia akan membunuhnya dan akan meminum arak dari tempurung kepalanya.

Untuk itu, ia mengumumkan akan memberi hadiah seratus ekor unta kepada siapapun yang dapat membawakan kepala 'Ashim r.a. kepadanya.

Mendengar sayembara tersebut, Sufyan bin Khalid yakin dan semangat akan dapat membawakan kepala 'Ashim r.a. kepada Sulafah. Untuk itu, ia kemudian mengirim beberapa kaum Adhal Waqarah ke Madinah dan berpura-pura masuk islam.

Setelah sampai di Madinah, orang-orang tersebut meminta permohonan kepada nabi Muhammad saw untuk mengirim sahabat agar bisa memberi ta'lim dan tabligh kepada mereka. Dan 'Ashim r.a. harus ada dalam utusan tersebut. Alasanya karena 'Ashim r.a. disukai oleh orang-orang tersebut.

Kemudian nabi mengirim sepuluh utusan untuk menyertai kaum Adhal Waqarah tersebut, termasuk 'Ashim r.a. di dalamnya.

Setelah ta'lim selesai, para sahabat kemudian bergegas pulang ke Makkah. Akan tetapi, para kaum Adhal Waqarah utusan Sufyan bin Khalid ingkar janji, dan menyuruh para orang-orang kafir untuk membunuh mereka. Saat itu, musuh berjumlah dua ratus orang, dan seratus diantaranya pemanah handal. Para musuh tersebut berasal dari kaum bani Lihyan.

Karena terpojok, maka para sahabat mundur ke arah bukit Fadfad.

Lalu, para kaum bani Lihyan pun berkata, "kami tidak ingin membunuh kalian, kami hanya ingin menukarkan kalian dengan harta penduduk Makkah." Para sahabat pun menjawab, "kami tidak mempercayai janji orang kafir" sambil melepaskan anak panah mereka. Dan akhirnya pertempuran pun dimulai.

Ketika anak panah para sahabat telah habis, mereka kemudian melempari para musuh dengan lembing.

Kemudian, 'Ashim r.a menyemangati para sahabat lainya, "Mereka telah menipu kita, jangan panik yakinlah bahwa kita akan mati syahid. Allah kekasih kita bersama kita, dan para bidadari surga sedang menunggu kita". Sambil berkata demikian, mereka maju dengan gagah berani hingga lembing mereka patah. Kemudian diganti dengan pedang. Karena jumlah musuh terlalu banyak, maka 'Ashim r.a. akhirnya gugur dan mati syahid.

Sebelum meninggal, 'Ashim berdoa " Ya Allah, sampaikan berita kami kepada Rasulullah. " Doa tersebut langsung di ijabah oleh Allah swt. Dan saat itu juga nabi mengetahui kejadian tersebut.

Mengetahui Sulafah akan meminum arak dari tempurung kepalanya, maka 'Ashim berdoa , " Ya Allah telah kukorbankan kepalaku di jalan-Mu, maka selamatkanlah kepalaku. "

Maka, Allah swt menunaikan doa 'Ashim r.a. . Ketika orang-orang kafir ingin memenggal kepalanya, maka Allah mengirim sekumpulan lebah untuk melindungi mayat 'Ashim r.a. dari berbagai arah. Akhirnya para orang kafir gagal memenggal kepalanya. Dan kemudian mereka meninggalkan mayat 'Ashim menunggu hingga malam tiba. Namun, ketika malam tiba, terjadi hujan lebat. Sehingga banjir telah menghanyutkan mayat 'Ashim r.a.

Sementara itu, para sahabat lainya juga telah gugur dan mati syahid. Yang tersisa ialah tiga orang, yaitu Khubaib, Zaid bin Datsnah, dan Abdullah bin Thariq r.a.. Mereka bertiga bertahan di atas bukit.

Para musuh terus membujuk mereka, "turunlah, kami tidak akan ingkar janji. " Akhirnya mereka bertiga turun dari bukit, dan seketika diserang oleh orang-orang kafir.

Abdullah bin Thariq r.a. berteriak, "inilah pertama kali kalian ingkar janji, aku lebih suka syahid bersama para temanku. " Abdullah bin Thariq tidak bergerak dan akhirnya musuh mensyahidkanya.

Tinggallah dua orang sahabat, mereka menangkapnya dan menjualnya sebagai budak di Makkah.

Zaid bin Dastnah r.a. dibeli oleh Shafwan bin Umayyah seharga lima puluh ekor unta sebagai balas dendam atas kematian ayahnya. Sedangkan Khubaib r.a. dibeli oleh Hujair bin Abu Ihab seharga seratus ekor unta sebagai balas dendam atas kematian ayahnya.

Di riwayatkan dalam Bukhari bahwa Khubaib r.a. dibeli oleh anak-anak Harits bin Amir karena ia telah membunuh Harits dalam perang Badar.

Zaid r.a. langsung dibawa keluar tanah Haram oleh Shofwan dan diserahkan kepada budaknya sambil berkata, "bunuhlah ia. " sedangkan Shofwan bersama sekumpulan orang menyaksikan pembunuhan tersebut. Termasuk Abu Sufyan.

Ketika algojo siap membunuh Zaid r.a. Abu Sufyan berkata, "Hai Zaid, aku bertanya kepadamu, apakah kamu suka jika lehermu yang akan dipenggal ini diganti dengan kepala Muhammad saw. Dan kamu akan dibebaskan sehingga kamu dapat berkumpul dengan keluargamu?"

Zaid menjawab, "Demi Allah, tak sedikitpun aku rela jika ada duri kecil menusuk Rasulullah saw, walaupun aku dapat bersenang-senang dengan keluargaku." Jawaban ini menakjubkan kaum kafir Quraisy termasuk Abu Sufyan, sehingga ia berkata, "belum pernah aku melihat kasih sayang yang sedemikian tinggi seperti kasih sayang sahabat kepada Nabi saw.. " lalu Zaid r.a. dipenggal hingga syahid.

Sedangkan Khubaib r.a. ditawan oleh Hujair selama beberapa hari. Seorang budak perempuan Hujair yang kemudian hari masuk islam berkata, "Selama Khubaib kami tahan, pernah suatu hari Khubaib makan anggur. Padahal kala itu, di Makkah tidak ada anggur sama sekali.

Tak lama kemudian, Khubaib dibawa oleh Hujair keluar tanah Haram. Sebelum dilaksanakan hukuman, Hujair berkata "apakah kamu memiliki permintaan sebelum ajal menjemputmu?" Khubaib menjawab, "izinkan aku mengerjakan shalat dua rakaat , karena tidak lama lagi akan kutinggalkan dunia fana ini untuk menemui Allah swt" permintaanya pun dikabulkan.

Lalu ia pun berdoa, "Ya Allah, adakah seseorang yang akan menyampaikan salamku kepada Rasulullah saw ? " ternyata salamnya itu sampai kepada Nabi saw.

Nabi pun menjawab salam dari khubaib melalui wahyu Allah, "Waalaikum salam ya Khubaib. " Lalu Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya, "Khubaib telah syahid di tangan kaum Quraisy."

Pembunuhan Khubaib sendiri dilakukan oleh empat puluh orang Quraisy yang menikam dengan lembing dari empat arah sehingga badanya hancur. Diantara mereka ada yang berkata, "sukakah kamu jika Muhammad menggantikan tempatmu, dan kamu akan kubebaskan? Jawab Khubaib r.a. " Demi Allah aku tidak suka nyawaku ditebus dengan penderitaan Rasulullah saw walaupun hanya duri kecil yang menancap di badan beliau"

Itulah contoh bentuk kecintaan para sahabat dengan Rasulullah saw. Dan juga bentuk ketaatan para sahabat dengan Allah swt. Semoga bermanfaat.

Related Posts:

0 Response to "Pasca Perang Uhud | Kisah Shalat dan Syahidnya Tiga Sahabat"

Post a Comment