Kisah Al Quran - Asal Mula Talak

Baca Juga

Asal mula talak

Tahukah anda bagaimana hukum talak itu berasal ?

Kita sudah sering mendengar tentang kata-kata talak. Kata yang paling sering terdengar dan beken hingga menjadi sebuah lagu ialah "talak tilu". Apa itu talak tilu?. Talak itu kalau dalam agama bisa dikatakan sebagai pisah ranjang dan bila sudah mencapai tahap yang ketiga (tilu) maka bisa dikatakan cerai.

Nah tentu kalau mendengar kata cerai sudah tidak asing lagi bukan? Karena hal ini sudah umum dan seringkali menjadi bahasan atau pokok berita di masyarakat. Apalagi itu dikalangan para artis-artis tanah air. Jika mendengar kata cerai atau talak tadi, sudah pasti menjadi berita viral .

Diceritakan dalam al qur'an surat Al - Mujadalah. Ada sebuah keluarga, yang wanita bernama Khawlah bint Tsa'lab. Ia menikah dengan Aus bin al-Shamit. Saat menikah, usia Khawlah masih sangat belia. Ia berparas cantik, dan memiliki tubuh yang menawan. Setelah menikah, mereka hidup bersama dalam waktu yang cukup lama, rukun , dan bahagia. Bahkan hingga di amanati beberapa putra.

Waktu terus berlalu, namun Khawlah masih tetap terlihat cantik dan menawan. Suatu hari, Khawlah berdiri shalat dan dilihat oleh suaminya. Ia berdiri tegak lalu ruku' dengan khusyuk dan sujud dengan lembut. Melihat gerakan-gerakan Khawlah, hasrat suaminya menjadi bangkit. Begitu Khawlah mengucap salam, sang suami dengan serta merta langsung mencumbunya. Khawlah menolak, sehingga suaminya kesal dan bersedih.

Kemarahan menguasai jiwanya. Tanpa berpikir panjang ia mengharamkan Khawlah atas dirinya. Suaminya itu berkata, " Engkau (haram) bagiku seperti (haramnya) punggung ibuku.

Ketika Khawlah menanyakan kepada sang suami atas kata-kata yang baru saja ia keluarkan, Aus berkata, "aku merasa kamu haram untukku. "

Saat itu, zhihar merupakan talak jahilyah yang paling keras. Karena, tingkat pengharamanya paling kuat dan pemutusan hubunganya paling jelas. Tak heran, jika Khawlah merasa sedih dan bingung. Berat baginya, untuk berpisah dengan suami dari bapak anak-anaknya.

Kemudian, dibalik kegelisahannya Khawlah mempunyai ide untuk menanyakan persoalanya kepada Rasulullah saw. Ia menghadap nabi dan berkata, "Aus telah menikahiku saat aku masih belia dan dicintai. Kini, setelah berusia tua dan punya banyak anak, suamiku itu mengharamkan diriku seperti ia mengharamkan ibunya. Padahal, aku punya anak yang masih kecil-kecil. Jika aku membiarkanya, mereka dalam pengasuhanya mereka akan tersia-siakan" Khawlah meminta pertolongan kepada Nabi untuk meluruskan persoalanya.

Namun, Nabi saw tidak dapat begitu saja memutuskan persoalan itu. Karena Ia adalah seorang utusan Allah. Setiap keputusanya, adalah keputusan Allah. Setiap ucapanya, mempresentasikan sabda langit. Kini, Ia belum bisa memberikan jawaban, karena belum mendapatkan wahyu dari Allah swt. Karena itu, Nabi saw bersabda, "Aku belum mempunyai jawaban dan keputusan mengenai persoalanmu. "

Mendengar jawaban Rasulullah, kegelisahan Khawlah semakin besar. Ia berkata, "wahai Rasulullah, suamiku tidak berkata talak. Ia adalah bapak anak-anakku dan orang yang paling kucintai . . . ." Khawlah berujar dengan suara yang memelas. Ia berharap Nabi saw, dapat segera memberikan jawaban yang akan menenangkan hatinya.

Sesungguhnya Nabi sudah mendalami persoalan yang dialami Khawlah. Namun, ia tak dapat memberikan putusan untuk persoalan tersebut. Ia kembali berujar, "Aku tidak punya keputusan yang jelas untuk masalahmu ini."

Mendengar jawaban Nabi, Khawlah kemudian mengahadap Allah swt. Ia berharap Allah memberikan jawaban atas semua persoalan yang dihadapinya. Ia berkata, "Aku mengadukan kefakiran dan kesedihan kepada Allah."

Khawlah mendirikan shalat dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Setiap kali ia mendapatkan jawaban dari Rasulullah, "Aku tidak punya jawaban apa-apa," Berkat doanya, pintu langit terbuka dan Allah mendengar pengaduanya.

Di tengah kebingunganya tersebut sesekali Khawlah menengadahkan wajahnya ke alngut dan sesekali menundukkan pandanganya ke arah Rasulullah. Tidak berselang lama Rasulullah menerima wahyu. Rasulullah kemudian mengabarkan ke Khawlah. Rasulullah bersabda bahwasanya setiap pelaku talak/zhihar yang ingin menebus sumpahnya harus memerdekakan budak  atau jika tidak mampu berpuasa selama dua tahun berturut-turut atau bila tidak mampu memberi makan enam puluh orang miskin.

Kini Khawlah telah merasa tenang, air matanya berseri-seri Allah telah memenuhi harapanya dan mengabulkan permintaanya. Sekarang ia bisa menata kembali kehidupanya, menata rumahnya dan mengabdi kepada suaminya.

Rasulullah saw mengirim utusan kepada Aus. Ketika Aus tiba,  Rasulullah bersabda kepadanya, "apa yang mendorongmu melakukan zihar?"

Aus menjawab, "setan telah mempermainkan pikiranku dan mengaburkan kesadaranku sehingga aku melakukan tindakan berlebihan. Adakah cara untuk mengembalikanya, agar Khawlah kembali menjadi pendamping hidupku?"

Rasulullah kemudian menjawab, "Ya" kemudian ia membacakan firman Allah swt, :

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya, dan mengadu kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawaban antara kalian berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Orang yang mendzihar istrinya diantara kamu, istrinya itu bukankah ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan mereka sungguh-sungguh mengucapkan perkataan munkar dan dusta. Dan sungguh Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Orang yang mendzihar istri mereka kemudian ia ingin menarik kembali apa yang mereka ucapkan maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa tidak mendapatkan (budak) maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa, (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. (Q.S Al-Mujadalah : 1-4)

Kemudian Rasulullah bertanya, "apakah kamu mampu memerdekakan budak?"

Aus menjawab, "Tidak, demi Allah"

"Apakah kamu mampu berpuasa?"

"Tidak demi Allah. Seandainya aku tidak makan sehari sekali atau dua kali aku akan merasa lemas ."

"Apakah kamu mampu memberi makan enam puluh irang miskin?"

"Tidak, kecuali bila engkau membantuku bersedekah"

Rasulullah kemudian memberikan bantuan kepada Aus sehingga, ia bisa memberi makan enam puluh orang miskin. Dengan cara itu, istrinya kembali sah untuknya.

Begitulah asal mula talak dan juga solusi bagi yang ingin rujuk kembali kepada istrinya. Islam ialah agama yang mudah dan tidak mempersulit kaumnya.

Related Posts:

6 Responses to "Kisah Al Quran - Asal Mula Talak"